Archive for Desember, 2005
Dokumentasi Pernikahan Bandung – Bety
Busana Putri by Mas Tomy Tri Wahyudi ~ Busana Putra by Bpk. Yeremia Herman ~ Tata Rias by Mas John Saleh ~ Studio by Kencana Digital Photography ~Add comment Desember 31, 2005
Hari Pernikahan Kami
Cinta yang membuat manusia adaCinta yang membuat matahari tetap bersinar
Cinta yang membuat angin lembut senantiasa bertiup
Cinta yang membuat bumi ini senantiasa damai
dan Cinta pula yang menyatukan hati kami berdua
Add comment Desember 31, 2005
Perjalanan Wisata Kopeng
Waktu itu 26 Desember 2003, kami berkunjung ke wisata alam Kopeng di lereng Gunung Merbabu yang memiliki ketinggian 3150 m. Dari Yogyakarta siang hari, kami menempuh jarak sekitar 65 km ke arah utara melalui Muntilan, Magelang, kemudian ambil arah Salatiga. Setelah meninggalkan kota Magelang dan menuju Salatiga, jalanan mulai menanjak dan hawa dingin pegunungan mulai dapat kami rasakan. Pemandangan alam di kanan dan kiri jalan sungguh bagus membuat kami sering berhenti untuk mengambil gambar. Semakin mendekat ke daerah Kopeng kami mendapati perkebunan sayur-sayuran segar seperti wortel, kol, kentang, dan sawi.
Untuk beberapa saat kami berhenti di pinggir jalan untuk menikmati suasana alam pegunungan yang menghampar di lereng Gunung Merbabu. Angin pegunungan begitu kuat menerpa kami, sehingga hawa pegunungan sungguh menyegarkan kami. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju wisata alam Kopeng.
Sampai di tempat wisata kami, pertama kali yang kami lihat adalah beraneka ragam tanaman hias dipajang oleh banyak penjual. Kami menjumpai banyak pengunjung yang sekedar melihat-lihat aneka ragam tanaman, dan banyak juga yang memesan untuk dibawa pulang. Banyak pengunjung juga beristirahat di taman, menikmati suasana taman sambil makan siang bekal yang telah dibawa.
Setelah kami rasa cukup berkeliling di taman, kami mencoba mengeksplorasi tempat lain dari wisata alam Kopeng. Kami menjumpai hutan pinus yang bisa Anda lihat di dalam foto artikel ini. Banyak warga setempat mencari kayu dan pinus kering untuk keperluan bahan bakar memasak. Selain hutan pinus, kami menemukan hutan alam Kopeng seperti hutan alam Kaliurang. Karena hari sudah semakin sore, kami tidak masuk ke hutan wisata tersebut.
Mungkin karena kami berdua memang suka berkelana, pulangnya kami tidak melewati jalur keberangkatan. Kami mengambil jalan menuju Kota Salatiga. Ternyata perjalanan dari Kopeng menuju Salatiga tidak kalah serunya dengan perjalanan keberangkatan. Lika liku jalan pegunungan dan suasana alamnya sangat indah. Sesampai Salatiga, kami mengambil jalan ke kanan menuju Kota Boyolali. Kondisi ruas jalan Salatiga – Boyolali terbilang cukup ramai karena merupakan jalur utama Semarang – Surakarta. Namun kami tetap menikmatinya karena merupakan daerah baru bagi kami. Sampai di Boyolali waktu sudah menunjukkan setengah enam sore. Sejenak kami beristirahat di pinggir jalan sambil menikmati makanan dan minuman kecil.
Perjalanan berikutnya adalah Boyolali – Klaten dan Klaten – Yogyakarta. Masih perlu waktu dua jam setengah untuk sampai di Yogyakarta. Kami mengambil jalan pintas dari Boyolali menuju Klaten, jadi tidak melalui Kartasura tetapi Jatinom. Karena kami memang berniat makan malam di Klaten, maka sesampai Klaten kami langsung berburu bebek goreng yang merupakan makanan populer di Klaten. Asyik juga makan malam di kota lain sambil menikmati suasana kota.
Setelah makan malam kami melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta yang berjarak sekitar 30 km. Rupanya jalan di malam hari bersama sang kekasih sangat mengasyikkan lho. Sampai di Yogyakarta sekitar pukul 20:30, kami kembali ke rumah kami masing-masing. “I love you sayang”, saya pamitan kepada kekasih cantik saya.
Add comment Desember 15, 2005
Indah Alam Keteb Pass
Hari itu tanggal 1 bulan 1 tahun 2003, kami berdua berkunjung ke tempat di mana kami dapat melihat pemandangan Gunung Merapi dengan sangat jelas. Nama tempat yang kami maksud adalah Keteb Pass, salah satu tempat wisata andalah Kabupaten Magelang yang berjarak sekitar 40 km dari rumah kami di Baran, Sendangagung, Minggir, Sleman. Kami berangkat dari rumah melintasi Ngluwar, Muntilan, dan menuju Keteb. Ruas jalan menuju Keteb yang kami lalui merupakan jalur wisata Borobudur, Keteb, Selo, Boyolali, Solo sepanjang 60 km. Anda yang melintas di jalur ini akan disuguhi dengan jalanan khas pegunungan yang berkelok-kelok, dengan pemandangan alam pegunungan di kanan kiri jalan. Sebagian ruas jalan tersebut sering ditutup kabut pada musim penghujan. Bagi Anda yang suka berpetualang berkendara di jalan pegunungan, kami sarankan Anda menempuh jalur Borobudur, Keteb, Selo, Boyolali.
Ketika kami sampai di Keteb Pass, kami takjub melihat pemandangan yang luar biasa. Hamparan hutan di kejauhan dan sebuah gunung tinggi menjulang dengan kepulan asap di atas kawahnya, ya Gunung Merapi dengan ketinggian 2.968 m yang merupakan gunung berapi yang sangat aktif. Pengunjung dapat menyewa teropong untuk mengamati pemandangan lebih dekat. Selain menikmati pemandangan alam, pengunjung dapat masuk ke Museum Gunung Merapi untuk melihat lebih dekat mengenai fakta Gunung Merapi. Bagi Anda yang ingin berfoto di puncak Gunung Merapi tapi enggan naik ke puncaknya, Anda dapat berfoto berlatar belakang puncak Gunung Merapi di dalam museum ini. Saya sendiri melakukannya, supaya bisa saling bercerita pengalaman di di puncak Merapi bersama Dik Beti yang terbiasa mendaki gunung termasuk Gunung Merapi sewaktu aktif di Menwa UGM.
Keteb Pass juga memiliki Keteb Vulcano Theater (KVT) yang memutar film dokumenter meletusnya Gunung Merapi pada 10 Februari 2001. Dengan tiket masuk Rp 2500 per orang, pengunjung dapat menonton film berdurasi 22 menit yang berjudul Napas Bumi Merah. Setelah berkeliling Keteb Pass, kami tak ketinggalan menikmati jagung bakar yang banyak dijual di area ini. Hemm.. asyik juga menikmati jagung bakar di hawa dingin Keteb Pass. Jika Anda berkunjung ke Borobudur, silakan menyempatkan diri berkunjung ke Keteb Pass.
Add comment Desember 15, 2005
Tour de Museum KA – Ambarawa
Memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-59 pada tanggal 17 Agustus 2004, kami mengunjungi kota Ambarawa yang berjarak sekitar 75 km ke utara dari Yogyakarta, 30 km ke selatan dari Semarang. Kami berangkat dari rumah Baran dengan rute Baran – Balangan – Ngluwar – Muntilan – Magelang – Secang – Ambarawa. Setiap kali kami bepergian ke arah Magelang, tak lupa kami menyempatkan diri untuk menikmati bakso sapi di Jalan Magelang di daerah Semen sebelum Muntilan, hemm..enak lho apalagi ditambah karak yang sedikit gosong kesukaan Dik Beti. O iya, selain bakso sapi warung yang terletak di sebelah kiri dari arah Yogyakarta ini juga menyediakan soto sapi dan aneka minuman dingin dan panas.Berkunjung ke Museum Kereta Api yang merupakan satu-satunya museum kereta api kuno di Asia Tenggara, kami mendapati berbagai jenis kereta api kuno (loko) jaman penjajahan Belanda. Ada lebih dari 20 koleksi kereta api kuno, salah satunya adalah seri NIS 250/C 1603 yang merupakan koleksi yang ke-16. Kereta pabrikan Hartmann Chemnitz ini berbahan bakar kayu dan mulai dioperasikan pada tahun 1902. Kecepatan maksimum mencapai 55 km/jam.
Tak lupa kami menyempatkan diri untuk berfoto diri dengan koleksi kereta api kuno. Bagi Anda yang berkunjung ke Kota Ambarawa, kami sarankan untuk tidak ketinggalan berkunjung ke Museum Kereta Api. Jika Anda mau, Anda dapat memesan dan mencoba naik kereta api kuno dan berkeliling Kota Ambawara (Railways Mountain Tour) sepanjang 18 km pp. Pasti menjadi pengalaman yang mengasyikkan.
Add comment Desember 15, 2005


